jump to navigation

BAB III METODE PENELITIAN January 21, 2010

Posted by Bima Hermastho in Chapter 3.
trackback

Pada bab ini akan dijelaskan metode penelitian yang dilakukan, Tipe Penelitian, Obyek Penelitian, Rancangan Penelitian, Instrumen Penelitian, Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis Data. Adapun skematis lingkup Bab 3, disajikan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1

Lingkup Bab III

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan model penelitian empirik yang telah dikembangkan dalam Bab 2. Pengukuran variabel-variabel indikator yang berkaitan dengan konsep atau konstruk yang dikembangkan dan diajukan dalam membangun hipotesis harus memenuhi kriteria standar validitas dan reliabilitas. Terdapat 9 variabel yang dikembangkan dalam penelitian ini, sehingga dapat dipastikan bahwa model kausalitas yang dikembangkan dalam penelitian ini rumit dan memerlukan ukuran sampel yang besar. Kendala ukuran sampel yang besar ini mendorong peneliti untuk menggunakan pengukuran indikator ganda yang diperlakukan sebagai indikator tunggal (Frone, Russel dan Cooper, 1992). Indikator tunggal tersebut diperoleh dengan menggunakan konsep composite indicator sebagai factor score. Factor score dihitung dengan menggunakan penjumlahan secara tertimbang terhadap masing-masing indikator pembentuk composite variable. Angka timbangan tersebut diperoleh dari confirmatory analysis (w). Penyederhanaan proses perhitungan variabel latent ini memungkinkan peneliti untuk mempergunakan Path Analysis sebagai pengganti Full Structural Equation Modelling dengan aplikasi AMOS, apabila sampel penelitian tidak memenuhi persyaratan dalam pengujian model menggunakan full SEM.

 

3.1. Tipe Penelitian

Tipe penelitian secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua macam tipe penelitian, yang pertama tipe penelitian applied research yang mempunyai tujuan untuk menyelesaikan masalah khusus yang terjadi pada saat penelitian dilakukan. Tipe penelitian kedua disebut tipe penelitian fundamental research atau basic research yang bertujuan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan (Uma Sekaran, 1992). Penelitian semacam ini banyak dilakukan untuk memperbaiki teori-teori yang berkaitan dengan penyelesaian problem yang secara umum banyak terjadi dalam organisasi dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu tipe penelitian yang dilakukan dalam disertasi ini menggunakan tipe penelitian kedua yaitu fundamental research.

Proses penelitian ini diawali dengan kegiatan penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan studi literatur untuk mencari justifikasi permasalahan penelitian. Justifikasi permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan melakukan studi literatur dan melakukan analisis terhadap data sekunder. Kegiatan tersebut merupakan proses exploratory research, yang merupakan kegiatan riset awal untuk mencari dan membatasi permasalahan penelitian agar bersifat applicable dan researchable (Zigmund, 1994). Tipe proses penelitian jenis ini akan mempelajari informasi perkembangan hasil penelitian yang telah dilakukan dan beberapa research gap yang terbuka untuk peneliti-peneliti yang lain. Oleh karena itu jenis proses penelitian ini dipakai sebagai pegangan ketertarikan penelitian agar dapat diperoleh pengembangan teori yang lebih baik (Uma Sekaran, 1992). Dalam studi awal telah dilakukan peninjauan lapangan untuk memperoleh dukungan empirik, sehingga penelitian ini dapat memperoleh temuan yang applicable. Dalam kunjungan lapangan ini akan diperoleh data sekunder yang dapat dipakai sebagai referensi pendukung penelitian.

Tipe proses penelitian kedua yaitu penelitian deskriptif untuk menggambarkan profil, karakteristik perusahaan. Penelitian deskriptif penting dilakukan, untuk mengarahkan berbagai kebijakan manajemen yang berkaitan dengan aspek perilaku manajerial. Dengan demikian tipe penelitian deskriptif dilakukan untuk menjawab pertanyaan siapa, di mana, kapan dan dan bagaimana suatu fenomena terjadi (zigmund, 1994). Proses penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam pengembangan pemikiran karakteristik suatu interest atau objek penelitian yang kemudian akan ditentukan dan diputuskan bagaimana cara implementasi kebijakan yang berkaitan dengan obyek penelitian tersebut.

Tipe proses penelitian berikutnya yang dilakukan merupakan tipe penelitian model kausalitas berjenjang. Jenis penelitian ini akan menguji hipotesis telah diajukan yang sudah dirangkum dalam model penelitian empiric. Data penelitian yang digunakan adalah data penelitian yang bersifat cross section yang diperoleh dari hasil survai. Untuk menghindari efek siklis, instrumen penelitian dirancang untuk menterjemahkan pendapat atau persepsi sikap responden terhadap stimuli pertanyaan penelitian dalam kurun waktu maksimal tiga tahun terakhir (Saifudin Azwar, 1995).

Tahapan analisis berjenjang digambarkan dalam Path diagram untuk menganalisis logika keterkaitan dan urutan kejadiaan (event) diantara variable-variabel penelitian. Tujuan lain dari Path analysis untuk menentukan mana variable yang berperan sebagai antecendent dan mana yang berperan sebagai consequent serta untuk menentukan efek langsung dan tidak langsung dari variable penelitian. Tujuan utama dari penelitian kausalitas adalah untuk mengidentifikasikan hubungan sebab akibat dari suatu relationship berjenjang. Berdasarkan hubungan tersebut akan diperoleh suatu keterkaitan teori dalam domain penelitian TQM, Praktek Manajemen dan Budaya Organisasi. Analisis yang digunakan dalam model kausalitas ini adalah analisis multigroup sequential equation modeling disebabkan adanya variabel yang bersifat mediating (intervening) dan atau variabel yang mempunyai efek moderasi (contingent effect).

Pengujian goodness of fit model dilakukan sebelum pengujian hipotesis penelitian. Pengujian goodness of fit dilakukan dengan melihat beberapa indeks goodness of fit, seperti absolute goodness of fit, incremental goodness of fit dan parsimony goodness of fit. Absolute goodness of fit merupakan indeks kelayakan yang paling berperan dalam model kausalitas berjenjang. Dalam pengujian kelayakan absolute (statistik) ini, dilihat besarnya khai kuadrat (X2) untuk menentukan kesamaan distribusi matrik variance-covariance sampel dengan distribusi matrik variance-covariance populasi atau yang diharapkan. Di samping itu, karena penelitian ini menggunakan jumlah kasus penelitian yang termasuk dalam kategori sedang, maka uji kelayakan absolute (absolute fit measure) X2 tersebut perlu diikuti dengan index pengujian goodness of fit yang lain, seperti incremental fit index dan parsimonious fit index.

Metode survai dilakukan untuk memperoleh data persepsi, perilaku dan sikap responden yang mewakili perusahaan. Dalam penelitian ini yang menjadi responden penelitian adalah salah satu diantara manajer produksi, manajer HRD, kepala pabrik ataupun manajer kualitas. Confirmatory Analisis digunakan untuk menjelaskan validitas indikator­indikator atau kesamaan dimensi instrumen penelitian masing-masing konstruk atau variabel. Sebelum kuesioner diturunkan di lapangan diperlukan pengujian content validity, face validity dan predictive validity agar instrumen penelitian tidak bias (De Vellis, Robert F., 1991) Sedangkan untuk menguji signifikansi pengaruh dari variabel eksogen terhadap variabel endogen digunakan analisis distribusi parameter-parameter struktur persamaan regresi berjenjang (Structural Equation Modeling).

3.2. Obyek Penelitian

Objek penelitian adalah industri manufaktur yang terdaftar dalam Dinas Perindustrian Provinsi Jawa Tengah yang mengaplikasikan Total Quality Management ataupun inisiatif manajemen yang serupa. Unit riset dari penelitian ini terdiri dari direksi, manajer yang dapat diwakili oleh Direktur Produksi, Manajer produksi, Kepala Pabrik, Direktur SDM, Manajer SDM, Manajer Manajemen Mutu ataupun manajer lini pada ruang lingkup pabrik. Pemilik maupun eksekutif perusahaan tersebut dapat mewakili pandangan, sikap, perilaku perusahaan dalam implementasi TQM, implementasi praktek manajemen maupun inisiatif manajemen perubahan dan transformasi budaya perusahaan. Dengan demikian, target populasi penelitian meliputi perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di Dinas Perindustrian Provinsi Jawa Tengah.

3.3. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian merupakan master plan yang menjelaskan cara dan prosedur untuk memperolch data atau informasi penelitian. Penelitian ini akan melibatkan beberapa konsep (construct) yang sudah dikemukakan dalam rancangan hipotesis. Konsep merupakan "generalized idea about a class of object" yang merupakan abstraksi dari dunia nyata (Zigmund, 1994). Konsep-konsep tersebut ada yang berperan sebagai variabel eksogen dan endogen. Masing-masing konstruk akan diukur dengan beberapa indikator pertanyaan penelitian (scale item) yang akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan referensi beberapa studi journal. Sebelum kuesioner disebarkan di lapangan juga dilakukan pengujian terhadap rancangan kuesioner meliputi pengujian terhadap content/face validity, dan logical conection antar instrumen. Content/face validity dilakukan dengan melakukan pengujian terhadap isi rancangan kuesioner untuk masing-masing konstruk apakah semua item pertanyaan sudah mengungkap apa yang dikehendaki oleh teori atau content domain (DeVellis, Robert F., 1991). Face validity dalam pengujian content validity juga memerlukan pengujian logical connection untuk mengetahui apakah item pertanyaan secara konsisten berkorelasi dengan kontruk penelitian dalam satu hipotesis. Dalam penilaian sikap perlu dilakukan juga predictive validity untuk mengungkap apakah setiap item pertanyaan dapat dipakai untuk memprediksi perilaku di masa yang akan datang (Saifudin Azwar,1997). Oleh karena itu dalam merancang instrumen penelitian perlu melibatkan pemikiran kognitif untuk melakukan prediksi validitas dan reliabilitas instrumen dengan analisis logical connection.

Rencana sampel yang dipakai dalam penelitian juga termasuk didalam rancangan penelitian. Jumlah target populasi tersebut jumlahnya relatif kecil maka penelitian ini akan menggunakan metode sensus, penetapan perusahaan responden secara langsung. Target populasi merupakan spesifik atau complete group objek penelitian yang relevan yang meliputi semua industri manufaktur yang terdaftar di Dinas Perindustrian Provinsi Jawa Tengah, sekitar 150 perusahaan.

3.4. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini terdiri dari instrumen yang mengukur perilaku (lead indicator) dan instrumen yang mengukur kinerja (lag indikacator). Instrumen-­instrumen tersebut diukur secara verbal maupun tertulis dalam bentuk pernyataan­pernyataan yang mengukur sikap. Instrumen semacam ini sudah banyak digunakan peneliti dalam mengukur variabel-variabel dalam penelitian bisnis maupun penelitian dalam bidang Psychology (Nunnally Jum C., 1994; John Rust, 2000: Saifudin Azwar, 1995). Faktor-faktor yang diperhatikan dalam merancang pertanyaan penelitian ini meliputi faktor kognitif, afektif dan perilaku. Oleh karena itu faktor reliability, face validity/contend validity, predictive validity dan construct validity harus diperhatikan pula (John Rust et al., 2000) agar diperoleh power discrimination.

Pengukuran variabel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan indikator ganda yang diperlakukan sebagai variabel tunggal. Model pengukuran ini sudah digunakan oleh Frone F., Russel M. dan Cooper M. (1992) dengan melakukan koreksi terhadap kesalahan random. Besarnya angka koreksi tersebut sebesar (1 – a) dikalikan dengan variance masing-masing konstruk.

Berdasarkan definisi variabel konseptual beserta indikator-indikatomya, instrumen atau kuesioner penelitian, dan cara pengukuran indikator dapat variable disajikan kembali dalam Tabel 3.1 berikut ini :

Tabel 3.1

Konstruk, Indikator dan Cara Pengukuran

Variabel

Justifikasi

Konsep

Definisi Operasional

Staffing

Konstruk staffing meliputi tiga variabel utama :

· Perencanaan SDM (PLN),

· Rekrutmen (REC)

· Seleksi (SEL)

Crowley, 1999

Staffing (STF) adalah praktek MSDM yang meliputi tiga komponen utama : Perencanaan SDM (PLN), Rekrutmen (REC) dan Seleksi (SEL). Suksesnya penempatan karyawan dimulai dengan perencanaan dan perkiraan (forecasting) kebutuhan SDM yang baik

Diukur dengan menggunakan pertanyaan pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Pelatihan dan Pengembangan Konstruk pelatihan dan pengembangan meliputi empat empat indikator variabel, yaitu :

· Training Needs (TNS)

· Training Plan (TNP)

· Training Execution (TRE)

· Training Evaluation (TRV)

Swanson, (1995), Barrett & O’ Connell, (2001)

Pelatihan dan Pengembangan (TND) adalah proses sistematis untuk mengembangkan kompetensi individu yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja saat ini maupun pada masa yang akan datang).

Diukur dengan menggunakan pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Penilaian Kinerja

Praktek sistem kinerjadiukur dengan menggunakan tiga variabel, yaitu :

· Pelaksanaan evaluasi formal (EVL)

· Umpan balik rutin (FDB)

· Hasil kerja (RSL)

Mathis dan Jackson, (2003)

Penilaian kinerja (PAP) adalah proses komunikasi dan evaluasi kinerja individu karyawan yang dikaitkan dengan standar dan target yang telah ditetapkan

Diukur dengan menggunakan pertanyaan pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Sistem Imbalan Kinerja

Praktek sistem imbalan diukur dengan menggunakan variabel, yaitu :

· Pemberian imbalan atas dasar kinerja individu (IPR)

· Pemberian imbalan atas profit yang diraih perusahaan (PRT)

· Promosi yang didasarkan pada kinerja individu (PRO)

Banker dkk. (2000)

Penghargaan atau sistem imbalan kinerja (RWD) didefinisikan sebagai sistem imbalan bagi pekerja yang terdiri dari imbalan finansial dan non finansial yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi, moral, komitmen, produktivitas dan teamwork.

Diukur dengan menggunakan pertanyaan pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Hubungan Kekaryawanan Konstruk Hubungan Kekaryawanan terdiri dari empat variabel, yaitu :

· Penyelesaian komplain (CPL)

· Partisipasi

· Keterlibatan karyawan (IVL)

· Survei Prilaku (SRV)

· Penyampaian Saran Improvement (IMP)

Gomez-Mejia dkk (2001)

Hubungan kekaryawanan (ERL) merujuk pada praktek organisasi yang mengakomodasi perlakukan yang adil dan konsisten kepada karyawan. Hubungan kekeryawanan yang baik memberikan kesempatan kepada pekerja untuk memberikan opini, masukan pada kebijakan dan pengambilan keputusan manajemen.

Diukur dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Komunikasi internal (Internal Communication) Komunikasi internal diukur dengan 5 variabel, yaitu :

· Adanya Information sharing bersifat umum secara reguler (INS)

· Komunikasi target perusahaan (GLS)

· Komunikasi kinerja operasi (OPS)

· Komunikasi kinerja keuangan (FIN)

· Komunikasi kinerja kompetitif (CPT)

Lievens dkk (1997), Sprague & Brocco (2002).

Internal Communication (ICM) didefinisikan sebagai sistem komunikasi dua arah untuk menjelaskan visi, misi perusahaan, inisiatif-inisiatif manajemen, pengembangan produk baru maupun kondisi kinerja perusahaan (kinerja keuangan maupun non-keuangan.

Diukur dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Adhocracy Culture

Budaya Adhocracy yang akan diukur meliputi variabel :

· Pengelolaan Inovasi – Managing innovation (MIN)

· Pengelolaan Masa Depan, Managing the Future (MFT)

· Pengelolaan Continuous Improvement (MCI).

Cameron dan Quinn (1999)

Adhocracy Culture (ADC) didefinisikan sebagai budaya organisasi yang berorientasi pada kemampuan beradaptasi, fleksibilitas dan kreativitas (inovasi).

Diukur dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Market Culture

Variabel yang digunakan untuk mengukurnya antara lain :

· Pengelolaan Kompetisi – Managing Competitiveness (MCT)

· Mendorong Karyawan – Energizing Employees (EEM)

· Mengelola Layanan Pelanggan – Managing Customer Service (MCS).

Cameron & Quinn (1999)

Market Culture (MKC) didefinisikan sebagai budaya perusahaan yang berorientasi pada output, kompetisi, sasaran, dan tuntutan memenangkan persaingan .

Diukur dengan menggunakan pertanyaan- pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

TQM Standard of Performance Excellence Baldridge

Kosntruk TQM Standard of Performance Excellence menggunkan kriteria Malcolm Baldridge National Quality Award, yang terdiri dari aspek :

· Leadership (LDS)

· Information Analysis (IAN)

· Strategic Planning (SPN)

· Human Resources Focus (HRF)

· Process Management (PMT)

· Operating Results (OPR)

· Customer (CST)

NIST

TQM Standard of Performance Excellence (Baldridge, BLD) didefinisikan sebagai standar keunggulan kinerja organisasi yang meliputi 7 kriteria utama keunggulan organisasi yang dijadikan dasar pemberian penghargaan bagi organisasi perusahaan di Amerika yang memiliki kinerja kelas dunia.

Diukur dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan semantic differential scale 1 sampai 10, selengkapnya dalam lampiran kuesioner penelitian.

Sumber : dikembangkan untuk disertasi ini

3.5. Dimensionalisasi Variabel Penelitian

Pengumpulan data melalui survai dengan kuesioner yang mengukur sikap responden banyak mengandung kelemahan karena data terkumpul mengandung unsur bias. Oleh karenanya perancangan instrumen penelitian sangat menentukan validitas dan reliabilitas kuesioner. Pengujian instrumen penelitian atau kuesioner dilakukan dengan mengadakan uji coba kuesioner untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas, selain penelitian ini menggunakan konstruk penelitian yang sudah dikembangkan oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Berikut dibawah adalah pengembangan variabel pengukuran yang akan digunakan di dalam penelitian ini.

3.5.1 Dimensionalisasi Penempatan Tenaga Kerja (Staffing)

Staffing (STF) adalah praktek MSDM yang meliputi tiga komponen utama : Perencanaan SDM (PLN), Rekrutmen (REC) dan Seleksi (SEL). Suksesnya penempatan karyawan dimulai dengan perencanaan dan perkiraan (forecasting) kebutuhan SDM yang baik, Crowley (1999). Berdasarkan perkiraan kebutuhan yang akurat tentang jumlah dan spesifikasi pekerjaan yang membutuhkan SDM maka organisasi akan dapat melakukan antisipasi rekrutmen sesuai dengan kebutuhan aktual. Hal ini termasuk kebutuhan SDM yang memiliki latar belakang kompetensi dan pengalaman tentang TQM dan kesesuaian karakter pekerjaan, organisasi dan orang. Gambar 2.24 menunjukan dimensi dan indikator yang dikur dalam Staffing (STF).

Gambar 2.24 Dimensi Staffing (STF)

clip_image005

Sumber : Crowley (1999)

3.5.2 Dimensionalisasi Pelatihan dan Pengembangan (Training and Development)

Pelatihan dan Pengembangan (TND) adalah proses sistematis untuk mengembangkan kompetensi individu yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja saat ini maupun pada masa yang akan datang (Swanson, 1995). Pelatihan dan pengembangan dimulai dengan analisis kebutuhan pelatihan (TNA, training needs analysis) dan diakhiri dengan mengukur hasil-hasil program pelatihan yang dilakukan. Supaya Program Pelatihan dan Pengembangan yang sukses, perusahaan harus mampu mengidentifikasi individu yang membutuhkan pelatihan, dan jenis training yang dibutuhkannya agar dapat meningkatkan kinerja pekerjaan (Breiter dan Woods, 1997; Goldstein & Ford, 2002). Indikator yang dipakai untuk mengukur konstruk pelatihan dan pengembangan meliputi empat empat indikator utama (Barrett & O’ Connell, 2001), yaitu : (1). Training Needs (TNS), (2). Training Plan (TNP), (3). Training Execution (TRE), (4). Training Evaluation (TRV). Dimensi tersebut digambarkan pada Gambar 2.25 dibawah.

clip_image006

Gambar 2.25 Dimesi Pelatihan dan Pengembangan (TND)

Sumber: Barrett & O’ Connell (2001)

3.5.3 Dimensionalisasi Penilaian Kinerja (Performance Appraisal)

Penilaian kinerja (PAP) adalah proses komunikasi dan evaluasi kinerja individu karyawan yang dikaitkan dengan standar dan target yang telah ditetapkan (Mathis dan Jackson, 2003 hal. 342). Penilaian kinerja terdiri dari tiga indikator yang diukur yang meliputi : pelaksanaan evaluasi formal (EVL), umpan balik rutin (FDB), dan hasil kerja (RSL). Praktek Penilaian kinerja yang mendukung terciptanya budaya kerja TQM harus mengakomodasi aspek-aspek kompetensi dan implementasi TQM, Gambar 2.26 menjelaskan dikator tersebut.

clip_image006[1]Gambar 2.26 Dimensi Penilaian Kinerja

Sumber: Mathis dan Jackson (2003)

3.5.4 Dimensionalisasi Penghargaan Kinerja (Performance Reward)

Penghargaan atau sistem imbalan kinerja (RWD) didefinisikan sebagai sistem imbalan bagi pekerja yang terdiri dari imbalan finansial dan non finansial yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi, moral, komitmen, produktivitas dan teamwork, Banker dkk. (2000). Praktek sistem imbalan diukur dengan menggunakan tiga indikator utama, yaitu : pemberian imbalan atas dasar kinerja individu (IPR), pemberian imbalan atas profit yang diraih perusahaan (PRT) dan promosi yang didasarkan pada kinerja individu (PRO). Lebih lanjut, indikator tersebut digambarkan pada gambar 2.27.

clip_image006[2]Gambar 2.27 Dimensi Sistem Imbalan (RWD)

Sumber: Banker dkk (2000)

3.5.5 Dimensionalisasi Kekaryawanan – Hubungan Industrial (Employee Relations)

Hubungan kekaryawanan (ERL) merujuk pada praktek organisasi yang mengakomodasi perlakukan yang adil dan konsisten kepada karyawan. Hubungan kekaryawanan yang baik memberikan kesempatan kepada pekerja untuk memberikan opini, masukan pada kebijakan dan pengambilan keputusan manajemen (Gomez-Mejia dkk, 2001). Perusahaan dapat melakukan survei perilaku karyawan untuk identifikasi perilaku dan reaksi karyawan atas keputusan dan kebijakan yang di-implementasikan manajemen. Organisasi dapat menggunakan program partisipasi formal yang dapat mendorong karyawan berpartisipasi dalam memberikan masukan, ide dan saran pengambilan keputusan. Karyawan dapat menyampaikan keluh kesah sesuai dengan prosedur penanganan keluhan ataupun ikut menyelesaikannya melalui program penyelesaian komplain karyawan. Berdasarkan penjelasan tersbut, disusun empat indikator yang digunakan, yaitu : Penyelesaian komplain (CPL), Partisipasi dan keterlibatan karyawan (IVL), Survei Perilaku (SRV), dan Penyampaian Saran Improvement (IMP). Lebih jelas indikator tersebut disampaikan pada Gambar 2.28 dibawah.

clip_image006[3]Gambar 2.28 Dimesi Hubungan Kekaryawanan (ERL)

Sumber: Gomez-Mejia dkk (2001)

3.5.6 Dimensionalisasi Sistem Komunikasi Internal (Internal Communication Sistem)

Internal Communication (ICM) didefinisikan sebagai sistem komunikasi dua arah untuk menjelaskan visi, misi perusahaan, inisiatif-inisiatif manajemen, pengembangan produk baru maupun kondisi kinerja perusahaan (kinerja keuangan maupun non-keuangan), Lievens dkk (1997), Sprague & Brocco (2002). Untuk mengembangkan saluran komunikasi internal dapat menggunakan newsletter, bulletin boards, pertemuan langsung, intranet atau memo tertulis. Informasi secara lebih terbuka akan menciptakan alur informasi dari atas kebawah maupun sebaliknya menjadi lebih cepat dan berkualitas dalam pengambilan keputusan. Indikator komunikasi internal diukur dengan 5 indikator utama, yaitu : adanya Information Sharing bersifat umum secara reguler (INS), Mengkomunikasikan Target Perusahaan (GLS), Mengkomunikasikan Kinerja Operasi (OPS), Mengkomunikasikan Kinerja Keuangan (FIN) dan Mengkomunikasikan Kinerja Kompetitif Perusahaan (CPT), Lievens dkk (1997), Sprague & Brocco (2002) . Lebih jelas indikator tersebut disampaikan pada Gambar 2.29 dibawah.

clip_image006[4]Gambar 2.29 Dimensi Komunikasi Internal (ICM)

h

Sumber: Lievens dkk (1997), Sprague & Brocco (2002)

3.5.7 Dimensionalisasi Budaya Berorientasi Inovasi (Adhocracy)

Adhocracy Culture (ADC) didefinisikan sebagai budaya organisasi yang berorientasi pada kemampuan beradaptasi, fleksibilitas dan kreativitas (inovasi). Budaya adhocracy memiliki ciri utama pada upaya penciptaan adaptabilitas, fleksibilitas dan kreativitas, dimana ketidakpastian, ambiguitas, dan adanya informasi yang berlimpah ada di dalam organisasi. Indikator budaya adhocracy yang akan diukur meliputi : Pengelolaan Inovasi – Managing innovation (MIN), Pengelolaan Masa Depan, Managing the Future (MFT), dan Pengelolaan Continuous Improvement (MCI), Cameron dan Quinn (1999, hal. 108). Gambar 2.30 berikut menggambarkan dimensi-dimensi tersebut.

clip_image006[5]Gambar 2.30 Dimensi Budaya Adhocracy (ADC)

Sumber: Cameron & Quinn (1999)

3.5.8 Dimensionalisasi Budaya Berorientasi Pasar (Market)

Market Culture (MKC) didefinisikan sebagai budaya perusahaan yang berorientasi pada output, kompetisi, sasaran, dan tuntutan memenangkan persaingan (Cameron & Quinn, 1999). Organisasi yang memiliki Budaya Market kuat, daya saing organisasi menjadi tumpuan segalanya. Indikator yang digunakan untuk mengukurnya antara lain : Pengelolaan Kompetisi – Managing Competitiveness (MCT), Mendorong Karyawan – Energizing Employees (EEM) dan Mengelola Layanan Pelanggan – Managing Customer Service (MCS). Indikator-indikator tersebut digambarkan pada Gambar 2.31 berikut.

clip_image006[6]Gambar 2.31 Dimensi Budaya Market (MKC)

Sumber: Cameron & Quinn (1999)

3.5.9 Dimensionalisasi Keunggulan Kinerja Standar TQM (Baldrige)

TQM Standard of Performance Excellence (Baldridge, BLD) didefinisikan sebagai standar keunggulan kinerja organisasi yang meliputi 7 standar kriteria utama Baldridge National Quality Award, yang terdiri dari aspek : (1) Leadership (LDS); (2) Information Analysis (IAN); (3) Strategic Planning (SPN); (4) Human Resources Focus (HRF); (5) Process Management (PMT); (6) Operating Results (OPR); and (7) Customer (CST). Gambar 2.32. berikut menjelaskan indikator-indikator keunggulan kinerja standar TQM (Baldrige).

clip_image007Gambar 2.32 Dimensi Kinerja Unggulan Standar TQM (BLD)

Sumber: MBNQA – NIST, diadaptasikan untuk disertasi ini

3.5 Pengumpulan Data

Data penelitian yang akan dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan metode survai dengan sebagian besar pengiriman kuesioner melalui email dan pos, di samping itu untuk beberapa perusahaan dilakukan wawancara. Kuesioner yang telah diuji content validity dan reliability, kemudian dilakukan uji coba di lapangan agar diperoleh perbaikan konsistensi dan validitas instrumen penelitian (kuesioner).

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket tertutup dan terbuka. Angket tertutup yaitu angket yang digunakan untuk mendapatkan data tentang dimensi‑dimensi prilaku praktek manajemen dengan menggunakan Semantic Differential Scale (Cooper dan Emory, 2006, p.337). Semantic Differential Scale merupakan metode pengukuran sikap dengan menggunakan skala penilaian secara verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang ekstrim, misal: kuat – lemah, baik – buruk, tidak setuju – setuju. Data yang dihasilkan dari pengukuran tersebut bersifat interval. Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat Nunnally dan Bernstein (1994, hal.54) yang menyatakan bahwa pengukuran yang menghubungkan (anchors) dua sisi yang ekstrim (misal: sangat senang – sangat tidak senang) menghasilkan data yang bersifat interval. Pertanyaan-pertanyaan dalam angket tertutup dibuat dengan menggunakan skala 1 – 10 untuk mendapatkan data yang bersifat interval dan diberi skor atau nilai sebagai sebagai berikut :

Untuk kategori pernyataan dengan jawaban sangat tidak setuju/setuju

Sangat Tidak Setuju

rrrrrrrrrr

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sangat Setuju

Sedangkan pada angket terbuka digunakan untuk mendapatkan data yang dapat melengkapi hasil penelitian yang berasal dari angket tertutup.

3.6 Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Pengukuran Variabel dilakukan dengan menjumlahkan masing masing indikatornya dengan angka timbangan factor score yang diperoleh dari Analysis Confirmatory. Dengan demikian variabel latent dianggap sebagai variabel observasi karena menggunakan inidikator ganda yang diperlakukan sebagai indikator tunggal.

3.6.1 Content Validity

Validitas kuesioner dapat diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang telah banyak dipakai oleh para peneliti. Kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini merupakan hasil studi literatur dengan modifikasi seperlunya untuk menghindari kecenderungan responden terhadap preferensi tertentu.

3.6.2 Convergent Validity

Pengukuran konstruk dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan indikator ganda yang diperlukan sebagai composite variabel. Masing-masing indikator dari setiap konstruk diberi factor loading yang diperoleh dari Analysis Confirmatory kemudian dijumlahkan secara tertimbang menjadi satu composite variable. Dengan menggunakan confirmatory analysis ini akan dapat dilakukan pengujian konvergensi konstruk. Pengukuran konvergensi ini menunjukkan apakah setiap indikator mengukur kesamaan dimensi konstruk tersebut. Oleh karena itu hanya indikator yang mempunyai tingkat signifikansi yang tinggi, yaitu lebih besar dari dua kali standar error dalam pengukuran indikator variabel penelitian. (Anderson dan Gerbing, 1988). Indikator yang tidak memenuhi persyaratan ini tidak dimasukkan dalam pengukuran composite variable.

3.6.3 Discriminant Validity Construct

Uji validitas ini menjelaskan apakah dua konstruk cukup berbeda satu sama lain. Variabel-variabel yang dianalisis dalam analisis regresi harus tidak mengandung unsur multicolinierity (Gujarati, 2000). Dalam Structural Equation Modeling perbedaan antar konstruk akan akan terlihat jika matriks variance dan covariance mempunyai nilai determinan mendekati nilai nol (Joreskog, 1971).

3.6.4 Construct Reliability

Reliabilitas konstruk dalam Structural Equation Modelling merupakan koefisien alpha (a) atau internal reliability yang akan dipakai untuk menjelaskan konsistensi pengukuran secara komposit, dan besamya loading faktor indikator konstruk yang menjelaskan validitas instrumen pengukur indikator. Besarnya angka reliabilitas konstruk ini sama dengan jumlah loading factor kuadrat dibagi dengan jumlah loading factor ditambah dengan kesalahan pengukuran.

3.7 Teknik Analisis Data

Suatu penelitian membutuhkan analisis data dan interpretasi yang bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dalam rangka mengungkap fenomena sosial tertentu. Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Metoda yang dipilih untuk menganalisis data harus sesuai dengan pola penelitian dan variabel yang akan diteliti. The Structural Equation Modelling (SEM) dari paket software statistik AMOS digunakan dalam model dan pengujian hipotesis.

Adapun penggunaan SEM dalam model dan pengujian hipotesis adalah karena SEM merupakan sekumpulan teknik‑teknik statistikal yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit secara simultan. Yang dimaksudkan dengan model yang rumit adalah model‑model simultan yang dibentuk melalui lebih dari satu variabel dependen yang dijelaskan oleh satu atau beberapa variabel independen dan di mana sebuah variabel dependen pada saat yang sama berperan sebagai variabel independen bagi hubungan berjenjang lainnya (Ferdinand, 2000, hal.3). Keunggulan lain dari SEM adalah dalam laten variable dimasukkan kesalahan pengukuran dalam model.

Sebagai sebuah model persamaan struktur, AMOS telah sering digunakan untuk menganalisa dan menguji model hipotesis dalam penelitian SDM dan prilaku. AMOS sangat tepat untuk analisis seperti ini, karena kemampuannya untuk : (1) memperkirakan koefisien yang tidak diketahui dari persamaan linier struktural, (2) mengakomodasi model yang meliputi latent variabel (3) mengakomodasi kesatuan pengukuran pada variabel dependen dan independen, (4) mengakomodasi peringatan yang timbal balik, simultan dan saling ketergantungan. Hal seperti yang diterangkan oleh Arbuckle (1997) dan Bacon (1997) dalam Ferdinand (1999 hal.85).

Penelitian ini menggunakan dua macam teknik analisis yaitu :

- Analisis faktor konfirmatori (confirmatory factor analysis) pada SEM yang digunakan untuk mengkonfirmasikan faktor‑faktor yang paling dominan dalam satu kelompok variabel.

- Regression weight pada SEM yang digunakan untuk meneliti seberapa besar variabel-variabel yang diteliti saling mempengaruhi.

Menurut Hair, Anderson, Tatham dan Black (1995, hal.616‑670), ada 7 (tujuh) langkah yang harus dilakukan apabila menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) yaitu :

1. Pengembangan model teoritis

Dalam langkah pengembangan model teoritis, hal yang harus dilakukan adalah melakukan serangkaian eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka guna mendapakan justifikasi atas model teoritis yang akan dikembangkan. SEM digunakan bukan untuk menghasilkan sebuah model tetapi digunakan untuk mengkonfirmasi model teoritis tersebut melalui data empirik.

2. Pengembangan diagram alur (path diagram)

Dalam langkah kedua ini, model teoritis yang telah dibangun pada tahap pertama akan digambarkan dalam sebuah path diagram, yang akan mempermudah untuk melihat hubungan‑hubungan kausalitas yang ingin diuji. Dalam diagram alur, hubungan antar konstruk akan dinyatakan melalui anak panah. Anak panah yang lurus menunjukkan sebuah hubungan kausal yang langsung antara satu konstruk lainnya. Sedangkan garis-garis lengkung antar konstruk dengan anak panah pada setiap ujungnya menunjukkan korelasi antara konstruk.

Konstruk yang dibangun dalam diagram alur dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu :

- Konstruk eksogen (exogenous constructs), yang dikenal juga sebagai source variables atau independent variables yang akan diprediksi oleh variabel yang lain dalam model. Konstruk eksogen adalah konstruk yang dituju oleh garis dengan satu ujung panah.

- Konstruk endogen (endogen constructs), yang merupakan faktor‑faktor yang diprediksi oleh satu atau beberapa konstruk Konstruk endogen dapat memprediksi satu atau beberapa konstruk endogen lainnya, tetapi konstruk eksogen hanya dapat berhubungan kausal dengan konstruk endogen. Diagram alur pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2

Structural Equation Modeling dengan Path Analysis

Praktek Manajemen Sumber Daya Manusia, Budaya Organisasi dan Analisis Kinerja Unggulan TQM (Baldrige)

clip_image008Sumber : Dikembangkan untuk disertasi ini

3. Konversi diagram alur ke dalam persamaan

Persamaan yang didapat (dari diagram alur yang dikonversi terdiri dari :

- Persamaan struktural (structural equation) yang dirumuskan untuk menyatakan hubungan kausalitas antar berbagai konstruk.

Variabel endogen = vairiabel eksogen + variabel endogen + error

- Persamaan spesifikasi model pengukuran (measurement model), di mana harus ditentukan variabel yang mengukur konstruk dan menemukan serangkaian matriks yang menunjukkan korelasi yang dihipotesakan antar konstruk atau variabel.

Komponen‑komponen ukuran mengidentifikasi latent variables dan komponen‑komponen struktural mengevaluasi hipotesis hubungan kausal, antara latent variables pada model kausal dan menunjukkan sebuah pengujian seluruh hipotesis dari model sebagai satu keseluruhan (Hayduk, 1987 ; Kline, 1996; Loehlin, 1992; Long, 1983, dalam Ferdinand. 1999, hal 85). Persamaan dalam penelitian ini seperti terlihat pada Tabel 3.5 berikut ini.

Tabel 3.5

Model Pengukuran Persamaan Struktural

Model Struktural

Kinerja BALDRIGE = g1 Staffing + g2 Training + g3 Performance Appraisal + g4 Reward + g5 Employee Relations + g6 Internal Communication + b1 Change Management + b2 Market Culture + b3 Adhocracy Culture + z1

Budaya Market = g7 Staffing + g8 Training + g9 Performance Appraisal + g10 Reward + g11 Employee Relations + g12 Internal Communication + d2

Budaya Adhocracy = g13 Staffing + g14 Training + g15 Performance Appraisal + g16 Reward + g17 Employee Relations + g18 Internal Communication +d1

Sumber : Dikembangkan untuk disertasi ini

Seperti yang telihat pada model, variabel terukur yang pertama dari tiap latent variable adalah dikhususkan memiliki factor ­loading dari l = 1 (l adalah terminologi yang digunakan oleh LISREL, serupa dengan koefisien dari model yang diukur ‑ berbobot regresi pada AMOS) untuk menentukan unit‑unit yang diukur pada unobserved variables (Arbuckle, 1997, hal.305‑306).

4. Memilih matriks input dan estimasi model

SEM menggunakan input data yang hanya menggunakan matriks varians/kovarians atau matriks korelasi untuk keseluruhan estimasi yang dilakukan. Matriks kovarian digunakan karena SEM memiliki keunggulan dalam menyajikan perbandingan yang valid antara populasi yang berbeda atau sampel yang berbeda, yang tidak dapat disajikan oleh korelasi. Hair dkk., (1996, hal.635‑637) menyarankan agar menggunakan matriks varians/kovarians pada saat pengujian teori sebab lebih memenuhi asumsi-asumsi metodologi di mana standar error yang dilaporkan akan menunjukkan angka yang lebih akurat dibanding menggunakan matriks korelasi.

Untuk ukuran sampel, Hair dkk., (1995, hal.637) menemukan bahwa ukuran sampel yang sesuai untuk SEM adalah 100 ‑ 200.

5. Kemungkinan munculnya masalah identifikasi

Problem identifikasi pada prinsipnya adalah problem mengenai ketidak mampuan dari model yang dikembangkan untuk menghasilkan estimasi yang unik. Bila setiap kali estimasi dilakukan muncul problem identifikasi, maka sebaiknya model dipertimbangkan ulang dengan mengembangkan lebih banyak konstruk.

6. Evaluasi kriteria goodness of fit

Pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap kesesuaian model melalui telaah terhadap berbagai kriteria goodness of fit. Berikut ini beberapa indeks kesesuaian dan cut-off value untuk menguji apakah sebuah model dapat diterima atau ditolak.

- X2 Chi‑square statistik, di mana model dipandang baik atau memuaskan bila nilai chi‑squarenya rendah. Semakin kecil nilai X2 semakin baik model itu dan diterima berdasarkan probabilitas dengan cut‑off value sebesar p>0,05 atau p>0.10 (Hulland dkk., dalam Ferdinand, 2000, hal.52).

- RMSEA (The Root Mean Square Error of Approximation), yang menunjukkan goodness of fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi dalam populasi (Hair et .al, 1995, hal.685). Nilai RMSEA yang lebih kecil atau sama dengan 0,08 merupakan indeks untuk dapat diterimanya model yang menunjukkan sebuah close fit dari model itu berdasarkan degrees of freedom (Browne dan Cudeck, dalam Ferdinand, 2000, hal.53; Ghozali, 2005, hal.32).

- GFI (Goodness of Fit Index) adalah ukuran non statistikal yang mempunyai rentang nilai antara 0 (poor fit) sampai dengan 1.0 (perfect fit). Nilai yang tinggi dalam indeks ini menujukkan sebuah “better fit” (Ferdinand, 2000, hal.54).

- AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index), di mana tingkat penerimaan yang direkomendasikan adalah bila AGFI mempunyai nilai sama dengan atau lebih besar dari 0,90 (Hair dkk., 1995, hal.686; Hulland dkk, 2000, hal.55).

- CMN/DF, adalah The Minimum sample Discrepancy Function yang dbagi dengan Degree of Freedom. CMN/DF tidak lain adalah statistik chi‑square, X2 dibagi Dfnya disebut X2 relatif. Bila nilai ‘X2 relatif kurang dari 2.0 atau 3.0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data (Arbuckle, 1997, hal.399‑400).

- TLI (Tucker Lewis Index), merupakan incremental index yang membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model, di mana sebuah model ³ 0,95 (Hair dkk., 1995) dan nilai yang mendekati 1 menunjukkan a very good fit (Arbuckle, 1997, hal.409).

- CFI (Comparative Fit Index), di mana bila mendekati 1, mengindikasi tingkat fit yang paling tinggi (Arbuckle, 1997, hal.407). Nilai yang direkomendasikan adalah CFI ³ 0,95 (Ferdinand, 2000, hal.58)

Dengan demikian indeks-indeks yang digunakan untuk menguji kelayakan sebuah model adalah seperti dalam Tabel 3.6 berikut ini.

Tabel 3.6 Indeks pengujian Kelayakan Model

Goodness of fit index

Cut-off value

X2 Chi-square

Diharapkan kecil

Significaned Probability

³0.05

RMSEA

£0.08

GFI

³0.90

AGFI

³0.90

CMIN/DF

£2.06

TL1

³0.95

CFI

³0.95

Sumber : Hair Jr. et.al (1995) pada Ferdinand 2000; Ghozali, 2005

7. Interprestasi dan modifikasi model

Tahap terakhir ini adalah menginterpretasikan model dan memodifikasi model bagi model‑model yang tidak memenuhi syarat pengujian yang dilakukan. Hair dkk., (1995, hal.644) memberikan pedoman untuk mempertimbangkan perlu tidaknya modifikasi sebuah model dengan melihat jumlah residual yang dihasilkan oleh model. Batas keamanan untuk jumlah residual 5% Bila jumlah residual lebih besar dari 5% dari semua residual kovarians yang dihasilkan oleh model, maka sebuah modifikasi mulai perlu dipertimbangkan (Hair, 1995, hal.668). Bila ditemukan bahwa nilai residual yang dihasilkan model cukup besar (yaitu > 2,58) maka cara lain dalam modifikasi adalah dengan mempertimbangkan untuk menambah sebuah alur baru terhadap model yang diestimasi itu. Nilai residual value yang lebih besar atau sama dengan ± 2,58 diinterpretasikan sebagai signifikasi secara statistik pada tingkat 5%.

Comments»

1. titi - December 26, 2011

Penelitian yang sangat menarik. Terima kasih berbaginya Pak. Selanjutnya, bagaimana hasilnya ya pak? Apakah bisa dibagi juga? Atau apakah ada link yang bisa ditelusur untuk versi publikasi penelitian ini? Sangat tertarik untuk membaca nih.

2. titi - December 26, 2011

Penelitian yang sangat menarik. Terima kasih berbaginya. Selanjutnya, bagaimana hasilnya ya? Apakah bisa dibagi juga? Atau apakah ada link yang bisa ditelusur untuk versi publikasi penelitian ini? Sangat tertarik untuk membaca nih.

3. ichsan - January 18, 2012

Pak bima,,
saya mahasiswa manajemen universitas andalas..
dan sedang melakukan penelitian skripsi ttg hubungan kecerdasan emosional dan gaya kepemimpinan pada self efficacy dan komitmen organisasi, pada penelitian tersebut saya menggunakan amos 18 sebagai alat analisis nya….
dalam peneltan tersebut, saya menggunakan indikator komposit..
jadi untuk mempelajari tentang indikator komposit tersebut, bisa kah saya
melihat bab pembahasan dari hasil penelitian bapak, untuk saya jadi kan bahan referensi????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: